banner image

Tapak Tilas Si "Matahari Terbit" di Bumi Sekundang Setungguan

          
Gambar 1. Ilustrasi Restorasi Meiji
Sumber: ayatayatadit.wordpress.com

Hai #SahabatSekundang

        Jepang adalah negara yang menerapkan politik sakoku yang memiliki arti isolasi yaitu politik yang bersifat menutupi diri pengaruh asing sehingga membuat Jepang mengalami kemiskinan dan ketertinggalan dari berbagai aspek salah satunya adalah teknologi. Maka dari itu Jepang melakukan Restorasi Meiji atau Meiji Ishin. Restorasi Meiji adalah serangkaian peristiwa yang dipuncaki dengan pengembalian kekuasaan di Jepang dari Kesyogunan Tokugawa menuju Kekaisaran Meiji yang terjadi pada 1866 hingga 1869. Dengan adanya restorasi ini menyebabkan Jepang melakukan perombakan besar-besaran pada bidang industri dan politik. Di bidang industri, Jepang berhasil mengejar ketertinggalan dan menjadi negara industri modern yang dapat bersaing dengan negara-negara lainnya seperti Inggris, Belanda, dan lainnya. Di bidang politik, Jepang menghapuskan politik sakoku yang mereka terapkan selama 200 tahun lamanya menjadi negara yang menerapkan politik imperialis.
Salah satu kebijakan imperialis Jepang ialah kebijakan Hakko-ichu-u yakni kebijakan yang memiliki tujuan untuk menjadikan Asia sebagai kesatuan wilayah yang dibawah kepemimpinan Jepang. Untuk mencapai tujuan itu, Jepang mengaku sebagai saudara tua dari seluruh wilayah di Asia dan akan mengaku sebagai dewa penyelamat negara-negara di Asia dari keterpurukan penjajahan bangsa barat. Selain itu, Jepang juga mempropagandakan perang pasifik sebagai perang Asia Timur Raya. Dan yang terakhir, Jepang melancarkan Gerakan 3A yakni “Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, dan Nippon Pemimpin Asia.” sebagai propagandanya dalam memikat hati negara-negara di Asia.
Selain Restorasi Meiji, kedatangan Jepang ke negara-negara Asia didorong oleh kebutuhan Jepang akan kekayaan alam untuk kepentingan industri dan militer karena pada tahun 1937 Jepang terlibat dalam Perang Pasifik melawan pasukan Sekutu. Alam yang cocok untuk memenuhi kebutuhan Jepang tersebut adalah alam Indonesia. Kekayaan alam Indonesia inilah yang menjadi daya tarik utama bangsa Jepang melakukan invansi ke Indonesia yang pada waktu itu sedang diduduki oleh Belanda pada tahun 1942 dan dengan waktu yang singkat, Jepang berhasil menguasai pulau Sumatera yang dimana pusat kepemimpinannya dilokasikan di Kota Bukittinggi.
Pada tanggal 24 Februari 1942, Jepang memasuki Bengkulu dengan menggunakan iring-iringan mobil baja yang dikomandoi oleh Kolonel Kangki. Beberapa hari setelah itu, residen Belanda terakhir menyatakan menyerah kepada Jepang dan sejak itulah Jepang resmi menguasai Bengkulu. Setelah berhasil menguasai Bengkulu, Jepang melancarkan aksinya yakni membangun pertahanan di berbagai daerah di Provinsi Bengkulu yaitu Bengkulu Utara dan Bengkulu Selatan. Pertahanan yang dibangun oleh Jepang adalah pillbox atau yang biasa kita sebut dengan bunker pertahanan. Pendudukan Jepang tidak bertahan lama karena pada menjelang tahun 1945, Jepang mengalami keterpurukan pada Perang Pasifik yang kemudian ditambah lagi dengan desakan dan perlawanan rakyat Indonesia khususnya rakyat Bengkulu Selatan yang sudah muak dijadikan sebagai pekerja paksa dan diharuskan mengabdi kepada pemerintah Jepang sehingga rakyat Bengkulu Selatan yang terkenal dengan mottonya yakni Sekundang Setungguan atau memiliki arti yaitu kebersamaan berhasil menggunakan mottonya sebagai cambuk penyemangat untuk mendesak mundur pasukan Jepang dari Indonesia khususnya dari Bumi Sekundang Setungguan. Jepang dipastikan menyerah ketika dua kota di Jepang hancur diluluhlantakan dengan bom atom dari Amerika yakni Nagasaki dan Hiroshima. Pada akhirnya Jepang meninggalkan Indonesia pada 15 Agustus 1945 dan menyerahkan Indonesia kepada sekutu sehingga terjadilah kekosongan kekuasaan yang menyebabkan terjadinya peristiwa Rengasdengklok yang mengakibatkan terjadinya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. 
Begitulah tapak tilas negeri yang biasa disebut negeri matahari terbit di Bengkulu Selatan. Mereka datang dengan gagah tetapi pualng dengan malu dan kesedihan atas kekalahan mereka di Perang Pasifik. Mereka pergi dengan meninggalkan beberapa peninggalan sejarah di Bumi Sekundang Setungguan ini. Terdapat 20 (dua puluh) bunker pertahanan milik Jepang yang dibangun dengan menggunakan jasa romusha. Jepang meletakkan bunker-bunker itu di beberapa titik di sepanjang pantai barat Bengkulu Selatan salah satunya adalah di Kelurahan Mandi Angin atau yang biasa disebut dengan Siwak Belakang Gedung oleh masyarakat Bengkulu Selatan. Di Kelurahan ini terdapat 3 (tiga) buah bunker pertahanan yang dihubungkan dengan parit-parit dengan tujuan agar pergerakan pasukan Jepang dari satu bunker ke bunker lain tidak diketahui oleh musuh. Namun sangat disayangkan dari 20 (dua puluh) buah bunker yang ada di Kabupaten Bengkulu Selatan, hanya 6 (enam) buah bunker yang dipelihara oleh Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan dikarenakan bunker tersebut berada di wilayah pemukiman warga, keterbatasan anggaran, serta lokasi bunker yang telah berada di laut dikarenakan ombak pasang.
Gambar 2. Salah Satu Bunker Jepang di Kawasan Taman Remaja
Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis

Pendudukan Jepang juga meninggalkan peninggalan bersejarah, mereka membawa meriam yang cukup besar bernama meriam Honisuit. Meriam Honisuit adalah meriam buatan Inggris yang memiliki panjang laras 7,1 m, bobot 2,2 ton, kaliber 19 cm. Meriam ini dibawa ke Bengkulu Selatan melalui Kota Pagar Alam dan dilokasikan ke Kelurahan Belakang Gedung sebagai bukti bahwa Bengkulu Selatan adalah pangkalan militer milik Jepang yang sangat penting untuk menjaga pertahanan laut barat Sumatera dari serangan musuh khususnya serangan Sekutu. Namun wilayah tempat meriam Honisuit berada adalah wilayah rawan longsor sehingga demi menjaga memori berharga dari sejarah pendudukan Jepang di Bengkulu Selatan, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung menyepakati dan mengizinkan Kodim 0408/BS untuk memindahkan meriam ini ke bundaran Jalan Raya Padang Panjang tepat berada di depan Kantor Bupati Bengkulu Selatan pada tahun 2008.
Gambar 3. Meriam Honisuit
Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis

Selain meriam dan bunker, Jepang juga meninggalkan peninggalan berupa landasan bandar udara yang terletak di Jalan Padang Panjang dan Gua Jepang yang terletak di Desa Pagar Dewa. Namun kondisi dari benda tersebut sangat memprihatinkan. Penulis sebagai masyarakat Bengkulu Selatan berharap kepada pemerintah Provinsi Bengkulu terkhusus pemerintah Bengkulu Selatan untuk memberikan anggaran dana untuk melakukan perawatan dan pengelolaan bagi benda-benda bersejarah karena melalui benda-benda itu kita sebagai generasi yang tidak ikut berperang dalam merebut kemerdekaan dapat merasakan bagaimana perjuangan para pendiri bangsa kita untuk merebut kemerdekaan. Jika kita merasakan jerih payah para pahlawan kita, kita akan lebih tahu cara untuk menghargai jasa-jasa mereka dengan cara mengisi kemerdekaan dan menjaga persatuan dan kesatuan Negara Republik Indonesia. Selain sebagai pengingat akan sejarah kemerdekaan, benda-benda tersebut dapat dijadikan "senjata" dalam memajukan daerah melalui pariwisata. Provinsi Bengkulu terutama Bengkulu Selatan akan banyak mendapatkan wisatawan dengan banyaknya peninggalan-peninggalan sejarah yang tentu saja dirawat dengan baik. Jangan sampai kita melupakan sejarah bangsa kita karena menurut sejarawan Asep Kambali, cara untuk menghancurkan sebuah bangsa adalah cukup dengan cara membuat generasi penerusnya lupa akan sejarah bangsanya sendiri.


Salam JAS MERAH!

#StrategiKebudayaan
#KongresKebudayaanIndonesia
#BPCBJambi
#BentengMarlborough
#RumahPengasinganBungKarno
#MasjidJamikSoekarno
#TuguThomasParr
#BungkerJepangBengkulu
#SetengahAbadBengkuluEmas 
#WonderfulBengkulu 
#Visit2020
Tapak Tilas Si "Matahari Terbit" di Bumi Sekundang Setungguan Tapak Tilas Si "Matahari Terbit" di Bumi Sekundang Setungguan Reviewed by Muhamad Daffa Tisyahri Putra on November 21, 2018 Rating: 5

No comments:

Mohon Berikan Kritik, Saran, dan Komentar dengan Bijak Tanpa Menggunakan Kata Kasar dan Tanpa Isu Sara

Powered by Blogger.