Kemerdekaan Bangsa Indonesia merupakan cita-cita yang luhur dari bangsa Indonesia. Hal ini tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 juga tertuang bahwa cita-cita luhur bangsa Indonesia adalah menghapuskan segala macam bentuk penjajahan, perbudakan, dan penindasan suatu bangsa terhadap bangsa lainnya karena itu tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Kemerdekaan
yang diraih oleh bangsa Indonesia dilalui dengan jalan yang tidak mudah, banyak
liku-liku dalam meraih kemerdekaan yang merupakan impian bagi seluruh rakyat
Indonesia itu. Tidak sedikit rakyat berkorban jiwa dan raga dan rela menjadi
kusuma bangsa demi merdekanya bangsa ini. Mereka berjuang sepenuh hati melawan
segala penindasan yang dilakukan oleh bangsa asing terhadap mereka demi
terciptanya kehidupan yang lebih baik bagi dirinya, anaknya, serta keturunannya
kelak dimasa yang akan datang. Pada akhirnya perjuangan mereka tidak sia-sia
dengan dicapainya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan ini
menjadi tanda tonggak pertama pemerintahan Republik Indonesia.
Kepahlawanan Aceh
Aceh
tak pernah lepas dari tonggak sejarah Bangsa Indonesia mulai dari sejarah
kerajaan-kerajaan di Nusantara hingga sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia dan
menjadi bagian dari Republik Indonesia. Tak kalah dengan daerah lain dalam hal
sejarahnya, Aceh banyak menghasilkan tokoh-tokoh yang berani untuk terjun
langsung ke medan perang guna melawan penindasan dan penjajahan. Uniknya, tokoh
dalam kisah kepahlawanan Aceh ini tidak hanya dilakukan oleh kaum pria
melainkan kaum wanita juga turut andil dalam peperangan melawan penjajah. Salah
satu tokoh wanita dalam kepahlawanan Aceh yang paling terkenal adalah Cut Nyak
Dien dan Cut Meuthia. Hampir seluruh masyarakat Indonesia mengetahui siapa itu
Cut Nyak Dien dan kisahnya.
Tak
kalah dengan kisah heroik Jenderal Sudirman yang mempertahankan kemerdekaan
Indonesia, Cut Nyak Dien juga memiliki kisah heroik dalam memerdekakan bangsa
Indonesia di daerah Aceh. Kisah Cut Nyak Dien yang paling dikenal masyarakat
Indonesia adalah ketika ia menjadi panglima perang wanita pertama di Indonesia.
Ia menggantikan suaminya yaitu Teuku Umar yang gugur saat melakukan perlawanan
ke Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899. Akhirnya ia melakukan perlawanan
sendiri melawan pasukan Belanda walaupun dengan
pasukan kecilnya dan kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan. Pada
saat itu Cut Nyak sedang menderita penyakit encok dan rabun sehingga satu
pasukannya yang bernama Pang Laot merasa iba dan melaporkan keberadaan Cut Nyak
kepada pasukan Belanda. Ia akhirnya ditangkap dan ditahan oleh Belanda dan
dibawa ke Banda Aceh. Namun keberadaannya justru menambah semangat perlawanan
oleh rakyat Aceh sehingga Cut Nyak Dhien dibuang ke Sumedang pada 11 Desember
1906 hingga akhir hayatnya pada 6 November 1908. Ia dimakamkan di tanah
Sumedang yang sangat jauh dari tanah kelahiran tercinta.
Selain
kisah heroik dari seorang Cut Nyak Dien, Aceh juga memiliki kisah heroik yang
tak kalah dengan kisah Cut Nyak Dien yakni kisah Laksamana Keumalahayati atau
yang lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati. Laksamana Malahayati baru
saja diangkat oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai Pahlawan Nasional pada
9 November 2017. Malahayati adalah seorang Laksamana wanita pertama di
Indonesia bahkan di dunia. Dalam penyerangannya terhadap Belanda, ia membentuk
pasukan yang beranggotakan 2000 orang yang ia beri nama Inong Balee
(Janda-janda pahlawan yang telah syahid), dimana ia sendiri telah kehilangan
suaminya yang gugur dalam pertempuran melawan Portugis. Pada perang yang
terjadi pada tanggal 11 September 1599, ia dan pasukannya berhasil membuat
kapal, benteng, dan tentara milik Belanda luluh lantah. Selain itu ia berhasil
menewaskan pimpinan Belanda yakni Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu
lawan satu di geladak kapal. Berkat keberaniannya inilah ia diberi gelar
“Laksamana” sehingga ia dikenal dengan nama Laksamana Malahayati.
Tak
hanya kisah individu, heroiknya rakyat Aceh terbukti ketika awal kemerdekaan
Republik Indonesia tepatnya pada 3 tahun setelah kemerdekaan Republik Indonesia.
Banyak yang tidak mengetahui kisah ini padahal kisah ini sangat penting untuk
diingat sebagai pembelajaran dalam membela negara Republik Indonesia. Rakyat
Aceh pada saat itu secara sukarela bergotong-royong memberikan donasi dalam
penggalangan dana untuk membeli pesawat angkut pertama di Indonesia. Pada
pertengahan Juni 1948, Bung Karno tiba di Tanah Rencong dengan tujuan mencari
dana untuk pembelian pesawat. Pada saat sebelum makan malam, Sukarno dan para
pemuda serta pengusaha Aceh berkumpul untuk membahas masalah pembelian pesawat.
Pada saat itu Sukarno menjelaskan idenya sekaligus menantang rakyat Aceh untuk
menunjukkan rasa patriotismenya dalam mempertahankan dan memperjuangkan
kemerdekaan Republik Indonesia yang pada saat itu masih butuh pengakuan dari
dunia luar. Pengusaha Aceh M. Joened Joesoef menjadi yang pertama menyumbangkan
uangnya kemudian disusul dengan pengusaha lainnya.
Selain
para pengusaha, dana untuk membeli pesawat juga dikumpul oleh masyarakat Aceh
itu sendiri. Melalui pidatonya, Gubernur Aceh pada saat itu yakni Daud Beureuh
berhasil mengajak dan meyakinkan rakyat Aceh untuk bersama-sama menyumbangkan
harta seikhlasnya guna membantu pemerintah Indonesia untuk membeli pesawat.
Beberapa hari berselang dana untuk pembelian pesawat akhirnya mencukupi.
Pesawat jenis Dakota berhasil didatangkan ke Republik tercinta dan kemudian
pesawat itu di registrasikan dengan nama Dakota RI-001 Seulawah. Nama Seulawah
sendiri diambil dari salah satu nama gunung yang ada di Aceh dimana secara
harfiah nama Seulawah memiliki arti Gunung Emas. Sukarno memberikan nama
sebagai penghormatan terhadap rakyat Aceh yang secara sukarela mendonasikan
hartanya yang sangat berharga untuk kepentingan bangsa Indonesia dalam
mengatasi situasi sulit diawal kemerdekaan.
Menemukan Jati Diri Bangsa
Berbagai macam permasalahan yang
dihadapi oleh bangsa Indonesia akhir-akhir ini, mulai dari kasus korupsi yang
melibatkan pejabat-pejabat penting negara, permasalahan tidak amanahnya para
pemimpin bangsa, hilangnya nilai kejujuran di semua kalangan, hilangnya rasa
persatuan dan kesatuan dalam kehidupan bernegara, hilangnya rasa cinta terhadap
tanah air, dan masih banyak lagi permasalahan yang harus dihadapi oleh bangsa
Indonesia. Permasalahan ini seakan tak pernah habis dan selalu hadir di layar
kaca dan di lembaran koran yang menemani kita disetiap harinya.
Permasalahan diatas merupakan tanda
akan pudarnya jati diri bangsa Indonesia di mata dunia luar. Tak heran jika
banyak negara lain yang menganggap rendah, pesimis, dan remeh bangsa Indonesia.
Tak lain penyebabnya adalah hilangnya jati diri kita sebagai bangsa Indonesia
padahal pada awal kemerdekaan kita dikenal sebagai bangsa yang berani menentang
adanya penjajahan, bangsa yang menganggap perbedaan merupakan alasan untuk
bersatu, dan bangsa yang suka bergotong royong.
Pada masa-masa awal kemerdekaan
bangsa, para bapak pendiri bangsa telah berpikir keras untuk menentukan
bagaimana jati diri bangsa Indonesia. Jati diri yang merupakan landasan bagi
bangsa Indonesia dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui
pemikiran tersebut tercetuslah lima sila yang tercantum dalam Piagam Jakarta.
Lima sila itu dikenal dengan nama Pancasila. Dalam kelima sila itu tercermin
bagaimana bangsa Indonesia itu pada hakikat yang sebenarnya yakni ketuhanan,
kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan.
Jati diri bangsa dapat kita cari
dengan cara melihat bagaimana sejarah Indonesia terbentuk, bagaimana perjuangan
yang dilakukan untuk membentuk Republik Indonesia, bagaimana pengorbanan yang
dilakukan oleh pahlawan bangsa demi memerdekakan bangsa Indonesia. Presiden
Komunitas Historia Indonesia Asep Kambali mengatakan pada laman web dari
Komunitas Historia Indonesia bahwa cara paling ampuh untuk menghancurkan sebuah
bangsa adalah dengan cara menjadikan generasi muda suatu bangsa untuk lupa akan
sejarah bangsanya sehingga mereka akan lupa bagaimana jati diri bangsanya
sendiri.
Dengan mendengar dan membaca kisah
kepahlawanan bangsa Indonesia terutama kisah kepahlawanan Aceh, kita dapat
mengenal bagaimana sejarah bangsa kita dapat terbentuk, bagaimana perjuangan
yang pahlawan kita lakukan demi memerdekakan bangsa, dan bagaimana pengorbanan pahlawan
kita untuk kemerdekaan bangsa ini. Selain itu kita juga dapat mengetahui bahwa
Aceh adalah salah satu daerah yang sangat berjasa bagi kemerdekaan bangsa ini
berkat kepahlawanan rakyatnya yang sangat berani untuk menentang penindasan
yang ada di tanah mereka, serta kisah kepahlawanan itu dapat menjadikan kita
sebagai pribadi yang mau bersyukur dengan kemerdekaan yang telah kita genggam.
Maka dari itu Kepahlawanan Aceh sangat mengajarkan kita tentang jati diri
bangsa kita, jati diri bangsa yang percaya bahwa tuhan selalu bersama
kebenaran, jati diri bangsa yang mau bergotong royong melawan penindasan, dan terutama
jati diri bangsa yang berani untuk menentang segala penindasan dan penjajahan
yang ada dimuka bumi ini walaupun harus berkorban jiwa dan raga.
Menemukan Jati Diri Bangsa Melalui Kisah Kepahlawanan Aceh
Reviewed by Muhamad Daffa Tisyahri Putra
on
November 22, 2018
Rating:
Reviewed by Muhamad Daffa Tisyahri Putra
on
November 22, 2018
Rating:

No comments:
Mohon Berikan Kritik, Saran, dan Komentar dengan Bijak Tanpa Menggunakan Kata Kasar dan Tanpa Isu Sara