banner image

Manusia dan Cagar Budaya Indonesia

Halo, #SahabatSekundang!


            Jika saya diberi pertanyaan, “Makhluk apakah yang paling ragu-ragu dan mudah terbawa arus di dunia ini?” Maka jawaban saya dengan pasti adalah manusia. Manusia adalah sosok yang paling plin-plan dalam kehidupan ini. Kehidupannya sangat berpengaruh dengan apa yang ada disekitarnya. Jika ia berada di lingkungan yang baik maka baiklah dia sedangkan apabila sebaliknya maka itulah yang akan membentuk perilakunya. Memang tidaklah semua manusia seperti itu, namun jika kita diambil secara keseluruhan, maka jawaban itu mendekati akurat yang hakiki.
            Manusia tidak akan pernah tau siapa dirinya jika ia tidak memiliki asal usul yang jelas. Manusia tidak akan pernah tau apa yang harus ia lakukan jika tidak memiliki masa lalu. Manusia di masa depan tidak akan pernah menjadi apa-apa jika pada masa ini mereka tidak memiliki visi dan misi untuk kedepannya. Betapa pentingnya masa lalu bagi sesosok manusia, bahkan masa depan seorang manusia pun ditentukan dari apa yang telah menjadi pilihan yang diambil pada masa lalunya. Manusia milenial seringkali memiliki stereotip yang negatif akan masa lalu, “Untuk apa kita melihat ke belakang? Yang berlalu biarlah saja berlalu, Move On dong!” padahal tidaklah sesederhana yang ada dipikiran kita. Kita benar-benar membutuhkan masa lalu agar menjadi pribadi yang lebih baik di masa yang akan datang.
            Tanpa masa lalu, apakah kita akan mengetahui bahwa kita ini adalah manusia-manusia yang merdeka? Tanpa masa lalu, apakah kita paham untuk menghargai jasa yang pernah menjadikan kita sebagai manusia yang merdeka? Apakah kita bisa menghargai bangsa dan negara ini tanpa mengetahui masa lalunya yang penuh dengan tumpah darah demi tegaknya Sang Merah Putih di tiang tertinggi? Tentulah jawabannya tidak.
            Merawat memori kolektif bangsa akan masa lalunya dalam merebut kemerdekaan merupakan hal yang sederhana sekaligus rumit, bagaimana maksudnya? Peran kita sebagai generasi muda adalah mengajarkan memori kolektif tersebut kepada generasi yang lebih muda, sesederhana itu. Namun pada kenyataannya, kita sendiri saja sering enggan untuk belajar sejarah. Kondisi yang cukup memilukan bagi bangsa besar seperti Indonesia.
Banyak dari kita mengaku cinta dengan sejarah bangsa ini, akan tetapi yang kita perlukan adalah bukti. Apa buktinya kalau kita cinta dengan sejarah bangsa ini? Jika memang kita cinta, mengapa masih saja banyak yang tidak peduli dengan saksi bisu yang menjadi saksi atas perjuangan kusuma bangsa yang telah rela gugur demi menjadikan kita manusia yang merdeka?
Kita ambil contoh untuk daerah saya, Bengkulu. Bengkulu yang merupakan tanah pusaka, yang pernah dijajah oleh Inggris beratus-ratus tahun lamanya. Tidak sedikit peninggalan Inggris berada disini, hal yang wajar dengan lamanya mereka menjajah negeri yang menjadi rumah bagi Bunga Rafflesia arnoldii ini. Ada banyak peninggalan yang kini hanya berdiri lesu tanpa adanya perhatian yang berarti. Benteng York, benteng Inggris pertama di Kota Bengkulu, yang kini hanya puing-puing saja dengan menyisakan satu buah lumbung penyimpanan, tidak ada upaya untuk dilakukan pemugaran apalagi perawatan; Benteng Anna, benteng Inggris di Mukomuko yang kini juga tinggal puing-puing dan beberapa peninggalan meriam, tidak ada pemugaran, dan bahkan kini menjadi tempat warga melepas ternak-ternaknya; Puluhan bunker Jepang di Bengkulu Selatan, yang tidak terawat, beberapa diantaranya tergerus longsor akibat abrasi dari derasnya ombak pantai dan tenggelam ke dalam samudera.
Jika kondisi seperti ini kita pertahankan dari generasi ke generasi, sampai di generasi manakah peninggalan itu akan bertahan? Apakah harus menunggu peninggalan itu hilang terlebih dahulu baru kita mau untuk bergerak? Jangan sampai generasi-generasi bangsa kita kehilangan memorinya akan perjuangan pahlawan bangsa dalam memberikan kemerdekaan yang sangat berharga ini.
Pemerintah salah, kita pun sebagai masyarakat juga salah. Semua dari kita salah dalam hal ini. Pemerintah seharusnya yang memiliki kuasa, dapat menggunakan kuasanya untuk mengatur kebijakan dalam rangka merawat semua memori tersebut. Kita sebagai masyarakat juga harus memberikan perhatian dengan peninggalan-peninggalan sejarah tersebut dengan cara menjaganya, dan tidak merusaknya, serta melaporkan kepada pemerintah jika menemukan peninggalan sejarah yang belum pernah terdaftar. Sinergi dari kita semua diperlukan saat ini agar memori kolektif bangsa tersebut tetap selalu berada dalam memori setiap anak bangsa dari generasi ke generasi selanjutnya sehingga cinta akan tanah air tetap akan terjaga dan Negara Kesatuan Republik Indonesia akan tetap selalu menjadi kebanggaan di hati setiap anak bangsa. Itu semua bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Bersama-sama kita rawat memori tersebut atau mereka akan musnah dimakan oleh kejamnya waktu.
Anda dapat berkontribusi, begitu pula dengan saya. Kita semua dapat memberikan segala hal yang terbaik demi mempertahankan memori ini agar sampai ke telinga anak dan cucu kita nanti di masa yang akan datang. Kita adalah agen perubahan. Kita adalah generasi penerus bangsa, bukan agen "penghapus" bangsa. Segala hal yang baik dari pendahulu kita, kita teruskan! Segala hal yang buruk dari pendahulu kita, kita benahi! Jangan pernah takut untuk berkontribusi! Jika anda tidak dapat berkorban nyawa, cukup berkorban harta. Jika pun anda tidak dapat berkorban harta, anda cukup saja korbankan tinta-tinta penamu melalui coretan-coretanmu. Melalui konten #KoperBerpendapat ini saya berikan pemikiran kecil saya, saya berikan kontribusi kecil saya. Walaupun begitu, saya tetap yakin dan percaya bahwa sekecil apapun kontribusi yang telah kita berikan, tentu akan sangat berguna bagi bangsa ini. Teruslah berkarya!

Salam JAS MERAH!
Salam Cagar Budaya Indonesia! 
#SahabatSekundang
Manusia dan Cagar Budaya Indonesia Manusia dan Cagar Budaya Indonesia Reviewed by Muhamad Daffa Tisyahri Putra on November 20, 2019 Rating: 5

No comments:

Mohon Berikan Kritik, Saran, dan Komentar dengan Bijak Tanpa Menggunakan Kata Kasar dan Tanpa Isu Sara

Powered by Blogger.