Salam #SahabatSekundang!
Pada
konten kali ini, kita akan membahas sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu.
Bukan tentang mantan dan segala kenangannya yang selalu menjadi ingatan tak
terlupakan ya. Kali ini kita akan bahas tentang Cagar Budaya Indonesia. Mendengar
Cagar Budaya, mungkin kalian akan terpikirkan tentang Sejarah. Ya betul sih,
Cagar Budaya selalu berkaitan erat dengan Sejarah. Kali ini kita akan menyelisik
bagaimana sejarah pada suatu daerah melalui Cagar Budaya yang dimilikinya.
Boleh
ditebak nih, daerah mana yang akan dibahas? Ya! Daerahku sendiri, Bengkulu.
Bengkulu adalah salah satu Kota Pusaka di Indonesia. Dahulu Bengkulu dikenal
dengan nama Bencoolen oleh orang-orang Inggris dan Bengkoelen oleh orang-orang
Belanda. Nama Bengkulu memang tidak sepopuler daerah-daerah lainnya di
Indonesia akan tetapi Bengkulu menyimpan sejarah yang tak kalah dari
daerah-daerah lainnya di dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
![]() |
| Peta Provinsi Bengkulu |
Untuk
sahabat semua ketahui, Bengkulu merupakan salah satu “mantan terindah” yang
dimiliki Inggris. Dari sekian banyak wilayah yang dikuasai Inggris, Bengkulu
merupakan salah satu wilayah yang mereka miliki dalam waktu yang lumayan lama,
ratusan tahun mereka disini. Wajar saja sih jika peninggalan mereka juga banyak
di tanah ini. Saya semakin yakin nih kalau Bengkulu merupakan mantan terindah
dari Inggris sebab ketika Inggris melakukan tukar guling dan mendapatkan Singapura,
Inggris tetap menggunakan nama Bencoolen untuk menamai daerah di Singapura,
bahkan mereka juga membangun hotel di Singapura dengan nama Bencoolen Hotel.
Wah, ternyata Inggris tidak pernah melupakan Bengkulu ya.
![]() |
| Bencoolen Street Singapura |
Seperti
penjelasan sebelumnya, saya menyatakan bahwa Bengkulu merupakan wilayah yang
pernah dikuasai Inggris dengan waktu yang cukup lama. Kurang lebih 140 tahun
mereka ada di Bengkulu. Waktu yang selama itu sudah cukup untuk Inggris untuk
memberikan sentuhan tangannya dalam membangun Kota Bengkulu. Melalui
peninggalan terbesarnya di Bengkulu, Fort Marlborough, tergambar jelas
bagaimana Inggris membangun kota ini sebab membangun benteng merupakan bukan
hal yang sembarangan dilakukan melainkan dengan tujuan untuk memantapkan
posisinya di wilayah tersebut. Pembangunan benteng ini tentunya menandakan
bahwa Inggris ingin memantapkan posisi sebagai penguasa tunggal di Bengkulu
tanpa adanya persaingan dari negara lain seperti Belanda yang pada saat itu
juga menguasai wilayah-wilayah Indonesia.
Jauh
sebelum pendirian Fort Marlborough, Fort York lah yang merupakan
benteng pertama yang dibangun oleh Inggris. Benteng tersebut dibangun setelah
mendapat restu penguasa lokal melalui penandatanganan Traktat York, akan tetapi
karena lokasi yang kurang strategis ditambah lagi dengan maraknya wabah
penyakit malaria dan kolera sehingga Inggris mau tidak mau mendirikan benteng
baru yang berada di wilayah yang mereka sebut dengan nama Carrang atau
lokasi Benteng Marlborough saat ini. Benteng Marlborough memiliki peran yang
sangat penting bagi pasukan Inggris di Bengkulu, selain sebagai benteng
pertahanan, Fort Marlborough dijadikan sebagai pusat perdagangan Inggris
di Sumatera.
![]() |
| Benteng Marlborough |
Perjalanan Inggris di Bengkulu juga meninggalkan beberapa peninggalan sejarah lainnya yaitu Monumen Thomas Parr yang merupakan monumen memperingati peristiwa Mount Fellix yang menyebabkan tewasnya Residen Thomas Parr; Tugu Captain Robert Hamilton, yang merupakan tugu obelisk yang dibangun dengan tujuan untuk memperingati kematian dari Captain Robert Hamilton yang tewas terbunuh dalam peperangan melawan rakyat Bengkulu; Istana Stamford Raffles, yang merupakan rumah dari Raffles selama di Bengkulu; Kompleks Pemakaman Orang Inggris yang mana didalamnya terdapat makam dari anak-anak Raffles; Fort Anna, benteng pertahanan Inggris diwilayah Kabupaten Mukomuko; dan masih banyak lainnya.
![]() |
| Tugu Thomas Parr |
![]() |
| Kompleks Pemakaman Inggris |
![]() |
| Istana Stamford Raffles |
Objek-objek peninggalan Sejarah ini tentunya harus kita rawat bersama dan jangan kita biarkan musnah tanpa meninggalkan jejak. Jejak itulah yang akan selalu mengingatkan kita untuk tetap bersyukur dengan adanya kemerdekaan ini, kemerdekaan yang telah diraih dengan susah payah, bertumpah darah, dan berkorban jiwa beserta raga. Jadikan semua ini sebagai pengalaman bangsa dalam menghadapi permasalahan bangsa yang ada didepan mata, agar kita tidak terjatuh pada lubang kesalahan yang sama. Sekian dan terima kasih
Yuk mari ceritakan Cagar Budaya di daerahmu melalui Blog, mari ceritakan pengalamanmu tentang Cagar Budaya melalui “Kompetisi Blog cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah!” #CagarBudayaIndonesia #KemendikbudxIIDN
Bengkulu dari Perspektif Cagar Budaya Indonesia
Reviewed by Muhamad Daffa Tisyahri Putra
on
November 21, 2019
Rating:
Reviewed by Muhamad Daffa Tisyahri Putra
on
November 21, 2019
Rating:







No comments:
Mohon Berikan Kritik, Saran, dan Komentar dengan Bijak Tanpa Menggunakan Kata Kasar dan Tanpa Isu Sara