banner image

Langkah Konkret Menuju Indonesia Sentris

Halo #SahabatSekundang

Sumber: Rumah Filsafat

Dinamika kehidupan bangsa Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dimulai sejak dibacakannya Proklamasi Kemerdekaan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada 74 Tahun Silam, tepatnya pada 17 Agustus 1945. Sejak itu Indonesia memulai kehidupan bangsa dan bernegaranya yang dipimpin oleh Bung Karno selama kurang lebih 20 tahun lamanya. Saat ini kita mengenal era itu dengan nama Orde Lama. Hiruk pikuknya pembangunan Indonesia semasa itu masih sangat terpengaruh dengan ambisi Belanda yang ingin menegakkan kembali kekuasaannya di Indonesia sehingga pembangunan Indonesia mengalami keterlambatan. Fokus negara yang seharusnya diarahkan kepada pembangunan harus terbagi menjadi dua, dimana salah satu fokus lainnya diarahkan kepada Revolusi Bangsa dalam mengusir pengaruh penjajahan. Terganggunya kedaulatan membuat Indonesia masih harus tetap berjuang dengan tumpahan darah demi berkibarnya merah putih di penjuru tanah air ini.
Nama-nama dalam kabinet yang silih berganti menjadi faktor lain lambannya pembangunan Indonesia kala itu. Permasalahan negeri ini semakin bertambah runyam dan kompleks dengan adanya pemberontakan dimana-mana, mulai dari pemberontakan DI/TII hingga pemberontakan Parta Komunis Indonesia di Madiun pada tahun 1948. Kompleksnya permasalahan negeri ini menjadikan keadaan kala itu tidak kondusif. Kondisi inilah yang membuat Indonesia tidak memungkinkan untuk membangun peradaban yang maju sehingga pembangunan yang merata di seluruh penjuru tanah air (Indonesia-Sentris) belum dapat terwujud.
            Pada tahun 1965, pemerintahan Orde Lama pun tumbang. Tumbangnya pemerintahan Orde Lama merupakan buntut dari peristiwa berdarah terbunuhnya jenderal-jenderal Indonesia yang mempertahankan Ideologi Pancasila. Peristiwa kelam itu dikenal dengan nama peristiwa G30S PKI atau Gestapu. Naiknya H. M Suharto sebagai Presiden Republik Indonesia merupakan tanda awal dari masuknya Orde Baru. Pada Orde Baru ini, pemerintah mulai mengubah fokus bangsa ke arah pembangunan nasional. Harapan baru pun bermunculan agar terciptanya Indonesia sentris yang mana merupakan pengaplikasian dari Sila Kelima Pancasila. Tak bisa dipungkiri bahwa orde ini melakukan pembangunan yang sangat pesat, namun sangat disayangkan pembangunan masih terlalu fokus di Ibukota dan daerah sekitarnya saja (Tanah Jawa). Indonesia-sentris seperti yang diharapkan tidak dapat terwujud.
            Pada tahun 1998, Orde baru pun tumbang setelah 32 tahun berkuasa. Dibatasinya ruang lingkup berpendapat dan ekonomi yang semakin merosot membuat rakyat murka dan menuntut adanya reformasi. Fokus bangsa pada saat itu ialah memperbaiki situasi dan menerapkan reformasi sehingga pembangunan pun belum menjadi prioritas utama. Silih berganti pucuk pimpinan pada era reformasi mulai dari Presiden B. J Habibie, K.H Abdurrahman Wahid, Megawati Sukarno Putri, hingga Susilo Bambang Yudhoyono masih belum mampu untuk mewujudkan Indonesia-sentris, walaupun memang pembangunan daerah diluar Pulau Jawa tetap dilaksanakan namun perbandingan antara pembangunan di tanah Jawa dan pada pulau lainnya tidaklah sebanding. Ketimpangan ini terus terus berlanjut hingga terpilihnya Bapak Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia.
            Sejatinya era kepemimpinan bapak Joko Widodo sama halnya dengan kepemimpinan presiden-presiden sebelumnya yaitu pembangunan. Era presiden Joko Widodo mengarahkan fokus bangsa kepada pembangunan infrastruktur. Pada era kepemimpinan bapak Joko Widodo, beliau menerapkan pembangunan berdasarkan Indonesia-sentris. Pembangunan Indonesia-sentris yang dimaksudkan disini adalah pembangunan yang diarahkan untuk seluruh penjuru negeri. Bukti penerapan Indonesia-sentris pada masa kepemimpinan bapak Joko Widodo adalah dengan dibangunnya Pos Lintas Perbatasan Negara (PLBN) di seluruh titik perbatasan wilayah Indonesia dengan negara tetangga. Pos yang dibangun dengan megah ini menandakan bahwa Pak Jokowi serius dalam membangun wilayah perbatasan Indonesia. Kemudian selain itu, Pak Jokowi juga menetapkan Proyek Strategis Nasional di beberapa wilayah Indonesia mulai dari Tol Sumatera yang menghubungkan seluruh provinsi di Sumatera, kemudian ada pembangunan Jalan Lintas di Kalimantan dan Papua yang bertujuan untuk mengentaskan keterisolasian wilayah, kemudian ada program Tol Laut yang bertujuan untuk mengontrol tingginya harga bahan-bahan pokok, pembangunan Kawasan Ekonomi Ekslusif (KEK) untuk meningkatkan investasi, dan lainnya. Keseriusan Pak Jokowi dalam membangun Indonesia juga diwujudkannya melalui program Dana Desa yang mana diharapkan tiap desa dapat membangun wilayahnya masing-masing. Keseriusan Pak Jokowi dalam membangun Indonesia mulai dari pinggir juga diwujudkannya dengan mengunjungi tanah Papua hingga 9 kali. Hal ini tidak pernah dilakukan oleh presiden-presiden sebelumnya. Kunjungan Jokowi ke tanah Papua bukan sekadar berkunjung, namun beliau turun langsung ke lapangan untuk memantau proyek yang sedang dikerjakan di tanah tersebut. Beliau sangat berharap tidak ada lagi yang “menganaktirikan” tanah yang sangat kaya tersebut. Beliau mengharapkan Papua dapat mengejar ketertinggalan dari wilayah-wilayah lainnya.
            Selain langkah-langkah diatas, Pak Jokowi baru-baru ini juga melakukan langkah yang kontroversial. Beliau mengumumkan pemindahan Ibukota baru ke tanah Borneo. Pemindahan ini bukan tanpa alasan. Beliau melakukan langkah ini sebagai langkah konkretnya dalam mewujudkan Indonesia-sentris. Pemindahan ini dilakukan karena Kalimantan adalah titik tengah wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kemudian pemindahan ini diharapkan akan mengubah arah pembangunan bangsa yang lebih seimbang lagi ditiap wilayahnya. Selanjutnya status DKI Jakarta yang mengemban tugas yang berat sebagai Pusat Bisnis dan Pusat Pemerintahan menjadi salah satu faktor dalam pemindahan Ibukota ini. Walaupun banyak terjadi Pro dan Kontra pada masyarakat, namun beliau tetap pada pendiriannya untuk mewujudkan Indonesia-sentris sesuai dengan amanat Pancasila yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Merdeka!

#Bappenas #IbukotaBaru

Langkah Konkret Menuju Indonesia Sentris Langkah Konkret Menuju Indonesia Sentris Reviewed by Muhamad Daffa Tisyahri Putra on August 20, 2019 Rating: 5

No comments:

Mohon Berikan Kritik, Saran, dan Komentar dengan Bijak Tanpa Menggunakan Kata Kasar dan Tanpa Isu Sara

Powered by Blogger.