Surga Kecil Di Bumi Raflesia
Kartika Wahyuni
Sumber Gambar :
Aku seorang gadis yang terlahir
di sebuh desa kecil bagian dari provinsi Bengkulu, salah satu provinsi di Pulau
Sumatera tepatnya Sumatera bagian Selatan. Hari ini kali pertamaku menjejakkan kaki
di kota kecil ini. Kota yang belum dikenal banyak orang. Ya.. ini dia kota Bengkulu,
pusat kota yang dijuluki dengan Bumi Raflesia, tempat yang dikenal dengan bunga
legendarisnya. Aku bagian dari Bumi Raflesia ini, namun aku berasal dari sebuah
desa kecil yang jauh dari pusat kota, butuh 4 jam lamanya sampai aku bisa tiba
di kota ini. sungguh aku yang sedari lahir bagian dari kota ini, baru pertama
kali melihat bagaimana sesungguhnya kota yang aku tempati. Tuntutan ilmulah
yang mengantarkan aku dapat melihat kota ini. Semasa kecil hanya mendengar
cerita tetangga saja gambaran dari kota ini, “Lihat ini foto saat kami
berjalan-jalan di pantai Bengkulu” ucapan setiap orang setiap melihat kota itu.
Tiba di pusat kota terlihat jalan lintas
dengan banyak sekali bagian jalur kiri, kanan, depan, dan belakang dengan Bundaran Patung Kuda ditengah jalan,
lebih menarik lagi ada televisi besar disana, dipinggir jalan, besar sekali. “Hemm..
apa gunanya televisi di tengah jalan itu, mungkin hiburan pengusir bosan para
pengendara saat menunggu lampu merah” pikirku saat itu. Disambut dengan
keramaian jalan dan tiang-tiang lampu tiga warna yang belum pernah kulihat di desa.
Rasanya seperti mimpi aku ada disini, bola mataku seakan tak berkedip setiap
sudut jalan aku perhatikan dengan sangat terliti wajar saja ini kota pertama
yang aku lihat setelah kotaku.
“Uh setengah delapan
rupanya sekarang“ ucapku setelah melihat jam yang melingkar di lengan tangan
kiriku segara aku berjalan ke kampus,
semangat sekali kakiku melangkah sebab hari ini hari pertama perkuliahanku.
Hari pertama yang diisi dengan perkenalan di depan teman baru dan dosen
pengampu mata kuliah. Aku tidak terlalu tertarik melihat orang yang berkenalan
di depan kelas, malah aku lebih tertarik dengan pena lima warna yang ada di
jariku. “Hai perkenalkan aku Zoo, Zoo yang bearti hidup, aku berasal dari
Bengkulu tepatnya Bengkulu bagian Utara atau
Mukomuko ” terdengar suara yang
sangat semangat dengan wajah nampak bahagia, “semangat sekali wanita ini”
pikirku saat itu, tak berhenti menebar senyum lebih tepatnya sih cengengesan
ditambah tak bisa berhenti bergerak semenit saja. Tapi anehnya aku tertarik
dengan Zoo dari sekian banyak yang berkenalan Zoo berbeda. Aku rasa aku cocok
berteman dengannya, aku suka aura semangat yang ada dalam diri Zoo.
Aku mulai akrab dengan
Zoo sejak saat itu kami sering bercerita. Aku dan Zoo ternyata sama, kami
sama-sama dari desa kecil bagian Bengkulu dan baru pertama kali kesini. “Besok
kita ke pantai yuk, sekalian belajar mengahapal jalan “ ucap Zoo. Tentu saja
aku tertarik habis nada suara Zoo semangat sekali, aku mengacungkan dua jempol
tanda setuju. “Ting.. ting.. ting” suara pesan whattshap yang masuk di telepon genggamku, Ku lihat beberapa pesan
dari Zoo. Hari ini sesuai janji Zoo, kami menyusuri jalan melewati banyak lampu
merah, tidak ada tujuan yang jelas lurus, belok, dan lurus lagi mencoba menghapal
jalan kata Zoo. Hingga kami tiba dijalan dengan garis pantai di pinggir, pantai
yang selama ini hanya aku dengar dari tetangga, “Astaga panjang sekal bibir
pantai ini” ucapku saat itu, sungguh pinggangku saja pegal duduk diatas motor
menyusuri jalan dengan pemandangan bibir pantai nan indah ini. “Iyalah namanya
saja Pantai Panjang, tapi aku pun baru pertama kali melihat ini pantai” Ucap Zoo.
Aku semakin penasaran ingin melihat setiap sudut Bengkulu, aneh memang kotanya
sendiri tapi sama sekali belum pernah berkenalan. “Ayo turun kita kepinggir pantai
” Zoo berjalan meninggalkan aku ke arah pantai lebih dekat. Deburan ombak menggiring
buih-buih laut ke tepi pantai, belaian lembut angin menggoyangkan baju,
sentuhan halus pasir di jemari kaki, sungguh setelah 18 tahun lamanya aku bisa
melihat pantai ini.
Aku dan Zoo mulai mengunjungi
banyak tempat di Bengkulu, ingin mengenal kota ini lebih jauh. Aku yang belum
pernah melihat museum sekalipun, di Bengkulu ini untuk pertamakalinya aku bisa
melihat museum. Zoo seorang yang menyukai budaya hari itu aku diajak zoo ke
sebuah Benteng peninggalan Inggris yang sangat terkenal di Bengkulu, apa lagi
kalau bukan Marlborough. Jujur aku belum
pernah ke Benteng dan ini kesempatan pertama aku bisa melihat tempat ini,
terlihat ada banyak tulisan di dinding-dinding. Aku memang tidak mengerti arti
tulisan orang barat itu, tapi aku paham
itu pasti bermakna. Mengelilingi setiap sudutnya terlihat berbagai jenis
peninggalan penjajah zaman itu. Satu tempat di bagian atas Benteng tepat
menghadap kearah pantai terlihat
pemandangan luar biasa, “kenapa aku sangat menyukai sejarah” ucap Zoo menoleh
kearahku seolah-olah memberi aku tebak-tebakan, aku hanya menggelengkan kepala
saja. “aku suka tempat bersejarah atau
pun hal berbau sejarah sebab sejarah tidak pernah berbohong, banyak teka-teki
penuh pesan didalamnya” ucap Zoo tanpa
berhenti dengan mulut cerewatnya.
Hampir setiap libur aku
habiskan berjalan mengelilingi kota kecil kata orang dan besar bagiku, aku
banyak mengenal tempat baru di sini terutama tempat bersejarah lengkap dengan
kisah yang di ceritakan Zoo. Aku yang awalnya tidak terlalu tertarik dengan
sejarah mulai menyenanginya. “Halo manis ikut aku ya hari ini pasti seru
melihat… ” pesan singkat dari manusia aneh, siapa lagi kalo bukan Zoo. Aku
langsung bersiap tanpa membalas pesannya, sudah kuduga cepat sekali dia datang
tiba-tiba saja sudah di depan pintu
kosku. ”Ini akan sangat menyenangkan” ucap zoo dengan sangat semangat, “satu
sampai seratus sebarapa menyenangkan hal itu” kataku, “Skala ukurmu terlalu
rendah, lebih dari seratus tentunya” dengan nada yang sangat meyakinka. “Baiklah
cepat kita berjalan kedunia khayalanmu” ucapku sambil menarik tangan Zoo.
Benar saja aku dibawa
manusia aneh ini ketempat yang dulu
sering aku bayangkan, tempat yang sangat luar biasa apa lagi kalau bukan Festival
Tabut yang sangat terkenal di Bengkulu,
festival yang digelar setahun sekali. Ada banyak hal yang menarik disini
terutama budaya dari berbagai daerah bagian Bengkulu. Mataku sangat berat untuk
berkedip sekali saja, rasanya ingin sekali aku memiliki banyak mata di kepalaku
untuk melihat semua hal yang ada disini secara bersamaan. Berbagai penampilan
tarian daerah, musik daerah tak ketinggalan kerajinan daerah pun ada disini.
Kali pertama ku melihat festival besar yang ada di Bengkulu. Ada banyak hal
yang menggetarkan hatiku sampai-sampai aku pun tak bisa mengungkapkannya. Hari
ini aku benar-benar berkenalan lebih dalam dengan kotaku, rasanya sangat aneh
sampai tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Selama ini aku cinta dan bangga
pada kotaku tanpa alasan yang jelas, aku membayangkan hal yang menyenangkan di kotaku
padahal aku belum benar-benar mengenalnya.
Detik ini dengan sangat sombong Bumi Raflesia membuktikan semua hal yang
menarik dan tak kalah dengan kota besar di luarsana, detik ini juga Bumi Raflesia membuktikan
kehebatannya kenapa aku selama ini bangga, dan tanpa diduga dalam waktu
beberapa detik saja dapat membuat rasa cintaku terhadap Bumi Raflesia ini
semakin bertambah, surga kecil yang belum banyak dikenal orang. Benar ternyata
selama ini sepotong hatiku ada disini.
Surga Kecil Di Bumi Raflesia
Reviewed by Kartika Wahyuni
on
October 28, 2019
Rating:
Reviewed by Kartika Wahyuni
on
October 28, 2019
Rating:

No comments:
Mohon Berikan Kritik, Saran, dan Komentar dengan Bijak Tanpa Menggunakan Kata Kasar dan Tanpa Isu Sara