Salam #SahabatSekundang
Kabawetan adalah sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu. Kabawetan merupakan daerah penghasil komoditas perkebunan yang besar di Provinsi Bengkulu. Kabawetan menghadirkan perkebunan teh terluas di Provinsi Bengkulu karena berdiri di lahan seluas 1.911 Hektare dan tepat berada di depan lahan perkebunan itu terdapat pabrik pengolahan teh yang dibangun dilahan satu hektare. Uniknya pabrik ini adalah pabrik yang masih kokoh berdiri dan masih tetap memproduksi teh sejak zaman kolonial Belanda tepatnya pada tahun 1925. Bangunan pabrik itu memang telah direnovasi oleh pemiliknya akan tetapi bentuk bangunan dan atapnya tetap mempertahankan keasliannya. Pabrik teh ini memproduksi dua komoditas teh, teh hitam dan teh hijau, namun pada tahun 1993 pabrik ini berhenti memproduksi teh hitam dan lebih fokus dalam produksi teh hijau karena pasar yang menjanjikan.
Lebih dari 1200 orang bekerja di pabrik ini sebagai pemetik teh. Mereka berasal dari penduduk lokal dan penduduk luar Pulau Sumatera. Kedatangan penduduk dari luar pulau Sumatera ini diawali ketika zaman kolonial Belanda. Para pimpinan Belanda sewaktu menguasai Indonesia memerintahkan untuk melakukan transmigrasi penduduk Jawa untuk dikirim ke Kabupaten Kepahiang guna menjalankan pabrik yang berada di lereng Bukit Kaba sehingga tak heran jika banyak masyarakat Kabawetan yang fasih menggunakan bahasa Sunda dan bahasa Jawa. Karena banyaknya masyarakat pendatang terutama masyarakat dari Bogor, salah satu daerah di sekitar Kabawetan diberi nama Bogor Kecil.
Perjalanan pabrik ini selama 92 tahun berdiri sejak 1925 tak lepas dari pasang surut seiring dengan pasang surutnya dunia sejarah di Indonesia baik sebelum masa kemerdekaan maupun masa setelah kemerdekaan. Pabrik ini didirikan oleh Belanda pada 1925 dan baru mengalami penanaman pada tanggal 1933 dengan fokus produksi teh hitam. Pada tahun 1942, Bengkulu tak lepas dari cengkraman penjajahan yang dilakukan oleh Jepang sehingga pabrik ini jatuh ke tangan Jepang dan pabrik ini dipergunakan untuk kepentingan Jepang. Ketika masa kemerdekaan, pabrik ini beralih menjadi milik Pemerintah Republik Indonesia namun produksinya terus mengalami penurunan akhirnya pada tahun 1968, pabrik ini diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Jambi. Namun peralihan ini belum memberikan peningkatan yang signifikan sehingga pabrik disewakan kepada PT. Perkebunan Nusantara XIII. Pada tahun 1980 Pemerintah Provinsi Bengkulu menggandeng PT. Sarana Mandiri Mukti untuk mengelola pabrik ini namun perusahaan ini mengalami krisis sehingga penjualan menjadi anjlok dari yang biasanya produksi 20 ton perhari turun menjadi 10 ton perhari. Hingga pada akhirnya pabrik diambil alih oleh pihak swasta dengan saham 64% dan sisanya dimiliki oleh Pemprov Bengkulu. Produksi teh sangat meningkat tajam dari yang biasanya 10 ton, sekarang hingga tiga kali lipatnya.
Jika sahabat suka Nature Traveling, maka tempat ini sangatlah cocok untuk anda. Pengunjung dapat menikmati hangatnya teh hijau Kabawetan sembari menghirup udara segar lereng Bukit Kaba yang masih sangat asri dan belum terkontaminasi dengan pekatnya udara akibat kendaraan bermotor. Dan bagi kalian yang suka Historical Traveling, tempat ini sangat cocok untuk anda karena didalamnya terdapat pabrik teh yang sangat bersejarah, berdiri kokoh 92 tahun lamanya dan telah menjadi saksi bisu dinamika sejarah bangsa Indonesia.
Sumber Foto : Dokumen pribadi penulis sewaktu mengikuti Lawatan Sejarah Nasional 2017 di Provinsi Bengkulu
Kabawetan : Antara Keindahan Alam dan Kekayaan Sejarah di Bumi Rafflesia Bengkulu
Reviewed by Muhamad Daffa Tisyahri Putra
on
December 14, 2017
Rating:
Reviewed by Muhamad Daffa Tisyahri Putra
on
December 14, 2017
Rating:



No comments:
Mohon Berikan Kritik, Saran, dan Komentar dengan Bijak Tanpa Menggunakan Kata Kasar dan Tanpa Isu Sara